Pohon Kambing di Maroko: Atraksi Unik yang Mengundang Kontroversi

Setiap pagi, Jaouad Benaddi berupaya membujuk kambing-kambingnya agar mau memanjat pohon argan dan tetap berada di sana selama beberapa waktu. Namun, pada hari itu, 12 ekor kambingnya tampak enggan mengikuti arahannya.
Putranya yang berusia 13 tahun, Khalid, mencoba membantu dengan membawa sekantong gandum lalu menaiki pohon. Salah satu kambing tertarik dan mulai mengikuti. Khalid pun naik lebih tinggi sambil menggoda kambing tersebut dengan makanan. Meskipun awalnya kambing itu ragu dan sempat melompat turun, akhirnya upayanya membuahkan hasil. Secara perlahan, kambing-kambing lain mulai mengikuti, hingga akhirnya selusin kambing bertengger di pohon seperti lukisan hidup.
Seorang wisatawan asal Italia, Mauro Belloni, awalnya mengira kambing-kambing itu hanyalah pajangan. Namun, setelah melihatnya secara langsung, ia menyadari bahwa mereka benar-benar nyata. "Saya pikir mereka adalah boneka, tetapi ternyata mereka hidup dan benar-benar berpose," katanya.
Di Balik Atraksi Kambing Pemanjat Pohon
Kekeringan yang melanda Maroko selama beberapa dekade telah menyulitkan petani dalam bercocok tanam. Sekitar awal tahun 2000-an, sebagian dari mereka mulai menggembalakan kambing ke pohon argan bukan hanya untuk mencari makan, tetapi juga untuk menarik perhatian wisatawan.
Sejak pandemi COVID-19, sektor pariwisata di Maroko sempat lumpuh, menghilangkan sumber pendapatan utama bagi banyak warga. Namun, setelah pembatasan perjalanan dicabut, atraksi kambing di pohon kembali menjadi daya tarik bagi wisatawan.
Namun, praktik ini menuai kritik dari para aktivis kesejahteraan hewan. Liz Cabrera Holtz dari World Animal Protection menilai bahwa kambing-kambing tersebut mengalami eksploitasi. Mereka dipaksa bertengger di pohon selama berjam-jam tanpa akses yang cukup terhadap makanan, air, atau tempat berteduh.
Proses Melatih Kambing untuk Berpose
Menurut Benaddi, dibutuhkan waktu sekitar enam bulan untuk melatih kambing agar terbiasa bertengger di pohon. Awalnya, mereka dipancing dengan buah argan dan diarahkan menggunakan tongkat. Anak-anak kambing sering diikat pada batang pohon agar wisatawan bisa berfoto lebih mudah.
Dokter hewan Adnan El Aji dari Essaouira mengatakan bahwa kambing memang memiliki ketahanan tinggi terhadap kondisi ekstrem seperti panas dan kelangkaan air. Namun, berdiri terlalu lama di pohon bisa menyebabkan kelelahan, dehidrasi, bahkan cedera. Ia pernah menangani kasus kambing yang mengalami patah kaki akibat terjatuh dari pohon, di mana biaya pengobatannya justru ditanggung oleh seorang turis yang peduli.
Maroko belum memiliki regulasi perlindungan hewan yang kuat. Sementara itu, bagi para peternak, menjadikan kambing sebagai atraksi bukanlah pilihan mudah, melainkan upaya terakhir untuk bertahan hidup.
Elaamrani, seorang pemandu wisata di Marrakech, mengakui bahwa dirinya lebih suka melihat kambing bebas berkeliaran. Namun, setelah pandemi, banyak wisatawan yang bersedia membayar hanya untuk menyaksikan atraksi ini. "Ini bukan masalah benar atau salah. Keadaan ini sulit bagi kambing, tetapi juga sulit bagi para peternak yang mengandalkan mereka," ujarnya.